Sabtu, 5 November 2011 dan Minggu 6 November 2011, saya dan seluruh teman seangkatan saya dikader oleh senior. Para senior memarahi kami hanya karena beberapa kesalahan sepele. Kesalahan yang seharusnya dapat dimaklumi. Kami juga tidak diperbolehkan menyebut angkatan kami dengan sebuatan “angkatan” karena kami belum dianggap sebagai angkatan. Saya tidak tahu apa tujuan mereka melakukan ini pada kami. Yang tidak saya lupakan sampai sekarang adalah mereka meminta kami untuk berkontribusi kepada himpunan mahasiswa di jurusan saya. Kami sudah mencoba sekuat tenaga untuk berkontribusi kepada himpunan mahasiswa, tetapi para senior selalu mencari-cari berbagai kesalahan kami dan mengatakan bahwa kontribusi yang kami berikan masih sangat kecil. Inikah yang disebut kaderisasi? Inikah yang katanya memperkenalkan jurusan kepada mahasiswa baru?
Kalau ini memanglah sebuah kaderisasi yang artinya mempersiapkan pengganti orang-orang yang mengkader, saya tidak heran jika kebudayaan mengkader seperti ini akan terus bertahan karena para kader akan melakukan hal yang sama ketika mereka dikaderisasi dulu. Padahal, mereka yang mengkader juniornya dan mereka yang dikader seniornya adalah para pemuda dan pemudi calon penerus tonggak kepemimpinan di Indonesia. Apa jadinya negara ini jika para pemimpinnya seperti itu?
Kaderisasi dengan cara seperti ini harus dihentikan. Cara mengkader seperti ini tidak efektif. Yang ada hanyalah membentuk kader yang pendendam, walaupun junior yang dikader tidak berani membalasnya ke senior mereka. Seperti kata peribahasa, guru kencing berdiri, murid kencing berlari, maka junior akan berbuat tidak berbeda dengan seniornya, atau bahkan akan lebih parah. Suatu saat nanti, akan ada seseorang yang bisa menghapus kebiasaan buruk kaum intelektual muda bangsa ini. Dia akan berani menanggung semua resiko akibat perbuatan baiknya. Kapankah orang ini akan datang?
Kaderisasi yang baik adalah dengan melakukannya dengan cara kekeluargaan agar junior yang dikadernya merasa senang sehingga mereka akan sulit melupakan esensi dari kaderisasi. Jika mereka menjalaninya dengan hati yang bahagia, mereka juga akan lebih berbahagia dalam mempraktekkan apa yang telah didapatnya di kaderisasi. Hal itu jauh lebih efektif bila dibandingkan dengan kaderisasi kuno yang telah membudaya hingga saat ini. Sekian dan terima kasih!
12 komentar:
sipp...
setuju bang arip...
bukan karena kita maba kita bisa di beginikan...
kita juga memiliki hak yang sama selama kita melakukan kewajiban kita...
kunjungi juga blog saya.
http://keepyoursmartmind.wordpress.com/
Setuju bgt gan. Banyak dari esensi pengkaderan yg telah lenyap berganti dg bentuk budaya tk berguna dan tanpa esensi
Insya Allah, 2011 akan mengganti tradisi ini!!! inilah faktor utama yang membuat Indonesia tidak maju
emank gitu sih kenyataannya. katanya kaderisasi buat mempererat solidaritas. Contoh: semua anak harus hadir pada salah satu kegiatan. jika ada satu yg gak hadir, maka grup yg berisi anak yg g hadir itu dihukum semua. sehingga teman2nya pada ngingetin anak yg g hadir tadi.
karena 'pada ngingetin anak yg g hadir tadi', diharapkan oleh si kakak kelas terjadi sebuah solidaritas. padahal kenyataannya 'pada ngingetin anak yg g hadir tadi' merupakan sebuah hypocrisy yg berembel2kan solidaritas.
juga kakak kelas selalu melampiaskan kemarahannya pada adik2nya yang katanya tujuannya mendidik mental. satu lagi 'hypocrisy'! bilangnya menguatkan mental, tapi sebetulnya ngemanfaatin buat ngelampiasin kekeselan.
itu menurut pemikiranku sih. ya gak tahu juga apa pemikiran saya benar atau mungkin saya yang terlalau cengeng, tapi satu hal yang pasti,... SEJAK KECIL SAYA BENCI BANGET LIHAT ORANG MARAH!!
@Anonim: Saya setuju dengan pendapatmu, Gis. Mungkin maksud mereka itu baik, tetapi cara yang mereka gunakan itu sangat buruk. Selain itu, acara seperti itu bisa jadi ajang pelampiasan amarah.
@Semua: Terima kasih banyak sudah mau memberikan komentar!
Sebetulnya mereka cuma akting kok rif,
kalau untuk lucu2an misal 3 hari pas awal kuliah untuk membekas memori ya ndak papa.
masalahnya kelamaan, masa drama kaya ginian sampe 1-2 semester?
kapan pinternya?
Lagipula kita ini mudah terpengaruh oleh sesuatu yang sering kita lihat. Kalau seseorang sering melihat hal2 yang berbau perploncoan seperti ini, maka orang tsb bisa terpengaruh mereka. Semoga hal itu tidak terjadi!
aku paling males dengan penjilat2 yang ada selama proses ini bang arif, selalu menampilkan yg terbaik kepada kakak2 tapi mematikan temannya sendiri... menjatuhkan satu sama lain, JIJIK!
sayangnya sampai sekarang pun belum ada perubahan dalam sistem kader, malahan melanjutkan warisan kader terdahulu...nanti yg ada malah maba merasa takut untuk bergaul dgn senior...
itu bener juga tuh,d jurusanku malah senior kerjanya cuman cari2 kesalahan kami,dikasih hati minta jantung....yg ada bukan melatih mental,tp malah hancurin mental
Kaderisasi sekarang cuman ikut2an, sama sekali nggak ada modalnya, nggak ada manfaatnya,kami disebut sampah....kalo gitu ngapain mereka ngader sampah2 ini??? cuman bisa berkuasa pas kuliah,besok pas kerja mereka cuman bisa nangis minta gaji buat anak istri.....
Di jurusan ane malah lebih aneh gan, ane sama teman2 di suruh kumpul di ruangan..disana malah diinterogasi yang aneh2. Dibilang nggak solid, tugas angkatan lama buat...ane kuliah itu bukan buat senior,mereka juga nggak kasih nilai buat ujian sama TA,buat apa peduli sama mereka...
Kaderisasi sekarang cuman buat formalitas,nggak ada bobotnya gan.
Senior nggak peduli diisi kayak giman tuh kegiataan,yg ada cuman bentak2,hinaan,nyari kesalahan,kasih tugas nggak guna lah....
Dari angkatan 201* kasih tugas,
"Cari data tentang kami,terus wawancara kami.Kumpulkan ketika kalian merasa sudah pantas jadi anak el****o!"
Kalaupun sudah pantas buat apa nemuin,memang mereka siapa.. jangankan dekan,dosen aja bukan...
Posting Komentar